Kamis, 14 Maret 2013

Konflik


1. Pengertian Konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut perbedaan ras, suku, bangsa, klan, agama, profesi hingga jenis kelamin. Perbedaan-perbadaan itu memuncak menjadi konflik ketika system social masyarakatnya tidak dapat mengakomodasi perbedaan-perbedaan tersebut, hal itu mendorong masing-masing individu atau kelompok untuk saling menghancurkan. Dalam hal ini, Soerjono Soekarto megatakan bahwa “perasaan” memegang peranan penting dalam mempertajam perbedaan-perbedaan tersebut. Perasaan-perasaan, seperti amarah dan rasa benci, mendorong masing-masing pihak untuk menekan atau menghancurkan individu atau kelompok lawan. Sementara itu, menurut De Moor, system social dapat dikatakan mengandung konflik hanya jika para penghuni system tersebut membiarkan dirinya dibimbing oleh tujuan-tujuan (atau nilai-nilai) yang bertentangan dan terjadi secara besar-besaran.
Konflik adalah sesuatu yang wajar terjadi di masyarakat, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.


2. Faktor penyebab konflik
• Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
            Setiap manusia tentu memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Coba perhatikan diri anda sendiri dan teman sekelas! Tentu anda akan menemukan adanya perbedaan pendirian dan perasaan antara anda dengan teman sekelas anda atas sesuatu hal. Perbedaan pendirian tersebut dapat menjadi factor penyebab konflik. Sebagai contoh, anda dan beberapa teman memiliki pendirian bahwa ketika belajar, suasana kelas haruslah tenang. Sementara itu, teman-teman anda yang lain berpendirian bahwa belajar sambil bernyanyi adalah sesuatu yang menyenangkan dan membantu. Perbedaan pandangan seperti itu tidak jarang menimbulkan rasa amarah. Hal itu dapat berlanjut pada perasaan benci hingga dapat timbul usaha untuk saling menghancurkan.
• Perbedaan latar belakang kebudayaan
Anda tentu sudah tahu bahwa kepribadian seseorang sedikit banyak dibentuk oleh  kelompoknya. Secara sadar atau tidak, seseorang akan terpengaruh oleh pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Sebagai contoh, seorang anak yang dibesarkan dalam sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kesopanan tentu akan terpengaruh untuk bersikap sopan ketika bertemu atau berbincang dengan orang lain. Sebaliknya, anak yang dibesarkan dalam sebuah masyarakat yang tidak mempedulikan nilain kesopanan tentu akan cenderung mengabaikan kesopanan ketika bertemu dan berbincang dengan orang lain. Dari contoh ini terlihat bahwa perbedaan kepribadian seseorang tergantung dari pola-pola kebudayaan yang menjadi latar belakang pembentukan dan perkembangan kepribadian orang tersebut. Perbedaan kepribadian individu akibat pola kebudayaan yang berbeda seperti itu tidak jarang menjadi penyebab terjadinya konflik antarkelompok masyarakat. Interaksi social antaridividu atau antar kelompok dengan pola kebudayaan yang cenderung berlawanan dapat menimbulkan rasa marah dan benci sehinnga dapat berakibat konflik.


• Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok, diantaranya menyangkut bidang ekonomi, politik, dan sosial.
            Perbedaan kepentingan antarindividu maupun kelompok merupakan factor lain penyebab konflik atau pertentangan. Setiap individu tentu memiliki kebutuhan dan kepentingan yang berbeda dalam melihat atau mengerjakan sesuatu. Demikian pula dengan kelompok. Setiap kelompok tentu memiliki kepentingan yang berbeda-beda dalam meihat atau mengerjakan sesuatu. Kepentingan itu dapat menyangkut kepentingan politik, ekonomi, social dan budaya.
            Sebagai contoh, hubungan antara Pemda dan pengusaha tertentu. Ada pejabat Pemda yang melihat hubungan itu sebagai cara untuk menarik investasi pengusaha dalam pembangunan daerah. Ada juga sebagian pejabat yang melihat hubungan itu sebagai kesempatan untuk mengisi pundi-pundi keuangan pribadinya dengan cara berkolusi dengan pengusaha tersebut. Sementara itu, pihak pengusaha melihat hubungan itu sebagai kesempatan untuk mendapatkan proyek pemerintah dan menambah keuntungan bisninsnya. Perbedaan kepentingan antarindividu maupun kelompok seperti contoh tersebut dapat menimbulkan konflik social di masyarakat.

• Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
            Masyarakat merupakan sekelompok manusia yang terus berubah seiring dengan perkembangan kebutuhan dan pengetahuannya. Coba kita perhatikan masyarakat kita saat ini dan bandingkan dengan keadaan sebelumnya sekitar 10 atau 20 tahun yang lalu. Tentu sangat berbeda. Perubahan-perubahan tersebut tentu juga akan mempengaruhi cara pandang sebagian anggota masyarakat terhadap nilai, norma, dan pola perilaku masyarakat. Apalagi jika perubahan itu berlangsung dengan cepat dan meluas. Muncullah perilaku-perilaku lain yang dianggap oleh sebagian anggota masyarakat lain sebagai perilaku “berlawanan, aneh, dan bertentangan” dengan kebudayaan masyarakatnya. Situasi seperti itu dapat memunculkan konflik atau pertentangan.
            Sebagai contoh, konflik antara kaum muda dan kaum tua. Biasanya, kaum muda cenderung ingin merombak pola perilaku atau tradisi masyarakatnya, sedangkan kaum tua ingin tetap mempertahankan pola perilaku dan tradisi nenek moyangnya. Hal yang sama dapat kita saksikan dari proses perubahan pedesaan Indonesia saat ini sedang mengalami proses perubahan dari masyarakat yang tradisional ke masyarakat industry. Nilai-nilai dari masyarakat yang tradisional seperti nilai kegotongroyongan berganti mejadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan dengan jenis pekerjaannya. Demikian juga dengan nilai-nilai. Nilai kebersamaan berubah menjadi individualis, dan nilai pemanfaatan waktu yang awalnya berorientasi pada fungsi social berubah menjadi fungsi materialis, yaitu “waktu adalah uang”. Perubahan seperti itu tidak jarang menimbulkan konflik-konflik di tengah masyarakat. Konflik tersebut mucul karena ada upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan. Perubahan itu dianggap mangacaukan tatanan kehidupan masyarakat yang telah ada.


3. Jenis-jenis konflik
Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam :
• konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi, seperti peranan seorang suami dan istri dalam mendapatkan penghasilan.
• konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
• konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
• konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara).
Berdasarkan bentuknya, Lewis A. Coser membedakan konflik atas dua bentuk, yakni konflik realistis dan konflik nonrealistic.

a. Konflik realistic
            Merupakan konflik yang berasal dari kekecewaan individu atau kelompok terhadap system dan tuntutan-tuntutan yang terdapat dalam hubungan social. Para karyawan yang mengadakan pemogokan melawan manajemen perusahaan merupakan salah satu contoh konflik realistic.

b. Konflik nonrealistic
Merupakan konflik yang bukan berawal dari tujuan-tujuan persaingan yang antagonis (berlawanan), melainkan dari kebutuhan pihak-pihak tertentu untuk meredakan ketegangan. Dalam masyarakat tradisional, pembalasan dendam lewat ilmu ghaib merupakan bentuk konflik nonrealistic. Demikian juga halnya dengan upaya mencari kambing hitam yang sering terjadi dalam masyarakat yang telah maju.


4. Akibat konflik
Segi positif suatu konflik adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain. William F. Ogburn dan Mayer Nimkoff mengatakan bahwa semakin besar permusuhan terhadap kelompok luar semakin besar pula integrasi atau solidaritas internal kelompok. Anggota-anggota kelompok akan bersatu untuk menghadapi musuh besar mereka.
b. Konflik merupakan jalan untuk mengurangi ketergantungan antarindividu dan kelompok.
c. Konflik dapat membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan mencoptakan norma-norma baru.
d. Konflik memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma-norma, nilai-nilai, serta hubungan-hubungan social dalam kelompok bersangkutan dengan kebutuhan individu atau kelompok.
e. Koflik dapar memperjelas aspek-aspek kehidupan yang belum jelas atau masih belum tuntas ditelaah. Sebagai contoh, perbedaan pendapat tentang suatu permasalahan dalam diskusi atau seminar biasanya bersifat positif. Perbedaan pendapat justru dapat memperjelas dan mempertajam kesimpulan seminar tersebut.

Segi negative suatu konflik adalah sebagai berikut :
A. keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.
B. perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga  dll.
C. kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.
D. dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.

Para pakar teori telah mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi; pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut:
• Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
• Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk "memenangkan" konflik.
• Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan "kemenangan" konflik bagi pihak tersebut.
• Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik.


5. Contoh konflik
• Konflik Vietnam berubah menjadi perang.
• Konflik Timur Tengah merupakan contoh konflik yang tidak terkontrol, sehingga timbul kekerasan. hal ini dapat dilihat dalam konflik Israel dan Palestina.
• Konflik Katolik-Protestan di Irlandia Utara memberikan contoh konflik bersejarah lainnya.


Cara pengendalian konflik social
Ada 3 syarat agar koflik tidak berakhir dengan kekerasan :
1.Setiap kelompok yang terlibat dalam konflik harus menyadari akan adanya situasi konflik di antara mereka.
2.Pengendalian konflik-konflik tersebut hanya mungkin bias dilakukan apabila berbagai kekuatan sosial yang saling bertentangan itu terorganisasi dengan jelas.
3.Setiap kelompok yang terlibat dalam konflik harus mematuhi aturan-aturan main tertentu yang telah disepakati bersama.
Pada umumnya, masyarakat memiliki sarana atau mekanisme untuk mengendalikan konflik di dalam tubuhnya. Beberapa ahli menyebutnya sebagai katup penyelamat (safety valve) yaitu suatu mekanisme khusus yang dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik. Lewis A. Coser melihat katup penyelamat itu sebagai jalan keluar yang dapat meredakan permusuhan antara 2 pihak yang berlawanan.

Secara umum, ada 3macam bentuk pengendalian konflik :

1. Konsiliasi
 pengendalian konflik yang dilakukan dengan melalui lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan diskusi dan pengambilan keputusan yang adil di antara pihak-pihak bertikai. Contoh bentuk pengendalian konflik ini adalah melalui lembaga perwakilan rakyat. Berbagai kelompok kepentingan yang bertikai bertemu di dalam lembaga ini untuk menyelesaikan konflik mereka.
Agar dapat berfungsi efektif dalam menyelesaikan konflik, lembaga-lembaga konsiliasi harus memenuhi empat hal, yaitu :
a.                           lembaga tersebut harus merupakan lembaga yang otonom. Keputusan yang diambilnya merupakan keputusan murni tanpa campur tangan dari lembaga lain.
b.                          Kedudukan lembaga tersebut di dalam masyarakat yang bersangkutan harus bersifat monopolistis. Artinya, hanya lembaga itulah yang berfungsi demikian.
c.                           Lembaga tersebut harus berperan agar kelompok yang bertikai merasa terikat kepada lembaga tersebut. Selain itu, keputusan-keputusannya berlaku mengikat kelompok-kelompok tersebut.
d.                          Lembaga tersebut harus bersifat demokratis, yakni setiap pihak harus diberi kesempatan untuk menyatakan pendapatnya sebelumkeputusan tersebut diambil.

2. Mediasi
Pengendalian yang dilakukan apabila kedua pihak yang berkonflik sepakat untuk menunjuk pihak ketiga sebagai mediator. Pihak ketiga ini akan memberikan pemikiran atau nasihat-nasihatnya tentang cara terbaik dalam menyelesaikan pertentangan mereka. Sekalipun pemikiran atau nasihat pihak ketiga tersebut tidak mengikat, cara pengendalian ini kadang-kadang menghasilkan penyelesaian yang cukup efektif. Cara mediasi cukup efektif untuk mengurangi irasionalitas yang biasanya timbul dalam konflik. Dengan cara mediasi ini, ada kemungkinan pihak-pihak yang berkonflik akan menarik diri tanpa harus “kehilangan murka”.

3.Arbritasi
Pengendalian yang dilakukan apabila kedua belah pihak yang berkonflik sepakat untuk menerima/terpaksa menerima hadirnya pihak ketiga yang akan memberikan keputusan keputusan tertentu untuk menyelesaikan konflik.
Pada bentuk mediasi, pemikiran atau nasihat dari pihak ketiga bukan merupakan keputusan yang mengikat kedua belah pihak yang berkonflik. Sebaliknya, dalam bentuk perwasitan, kedua belah pihak harus menerima keputusan-keputusan yang diambil pihak ketiga (wasit). Dengan kata lain, pihak ketiga tidak mengarahkan konflik untuk suatu tujuan tertentu yang memenangkan salah satu pihak.

Rabu, 13 Maret 2013

MANAJEMEN BIAYA LINGKUNGAN


MANAJEMEN BIAYA LINGKUNGAN

Kinerja lingkungan dapat meiliki pengaruh yang signifikan terhadap posisi keuangan perusahan. Hal ini juga menunjukkan perlunya informasi biaya lingkungan yang memadai. Bagi banyak organisasi, pengelolaan biaya lingkunagn menjadi prioritas utama dan minat yang intens. Ada dua alasan utama yang mendukung atas peningkatan minat tersebut :
1.      Di banyak negara, peraturan lingkungan telah meningkat secara signifikan, bahkan diperkirakan akan semakin ketat lagi. 
2.      Keberhasilan penyelesaian masalah-masalah lingkungan menjadi isu yang semakin kompetitif. Untuk memahami dua alasan utama tersebut, kita perlu memahami konsep yang disebut ekoefiensi.
Ekoefiensi

Manfaat Ekoefiensi
Ekoefiensi pada intinya mempertahankana bahawa organisasi dapat memproduksi barang dan jasa yang lebih bermanfaat sambil secara simultan mengurangi dampak lingkungan yang negative, konsumsi sumber daya, dan biaya.Konsep ini mengandung paling tidak tiga pesan penting.
1.      perbaikan kinerja ekologi dan ekonomi dapat dan sudah seharusnya saling melengkapi.
2.      perbaikan kinerja lingkungan seharusnya tidak lagi dipadang hanya sebagai amal dan derma,     melainkan sebagai kebersaingan.
3.      ekoefiensi adalah suatu pelengkap dan mendukung pengembangan yang berkesinambungan.

Ekoefiensi mengimplikasikan bahwa peningkatan efisiensi berasal dari perbaikan kinerja lingkungan. Beberapa penyebab-penyebab dan insentif-insentif untuk peningkatan ekoefiensi antara lain :
1.      Permintaan pelanggan akn produk yang lebih bersih
2.      pegawai yang lebih baik dan produktivitas yang lebih besar
3.      biaya modal yang lebih rendah dan asuransi yang lebih rendah
4.      keuntungan social yang signifikan sehingga citra perusahaan menjadi lebih baik
5.      inovasi dan peluang baru
6.      pengurangan biaya dan keunggulan bersaing



Model Biaya Kualitas Lingkungan
Bagi banyak perusahaan, biaya lingkungan merupakan persentase yang signifikan dari total biaya operasional. Fakta ini, ditambah dengan ekoefisiensi, menekankan pentingnya pendefinisian, pengukuran, dan pelaporan biaya lingkungan. Biaya lingkungan adalah biaya-biaya yang terjadi karena adanya kualitas lingkungan yang buruk atau karena kualitas lingkungan yang buruk mungkin terjadi. Biaya lingkungan dapat diklasifikasikan menjadi empat kategori, yaitu :
1.Biaya pencegahan lingkungan
Adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk mencegah diproduksinya limbah dan atau sampah yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan.


2.Biaya deteksi lingkungan
Adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk menentukan apakah produk, proses, dan aktivitas lainnya di perusahaan telah memenuhi standar yang berlaku atau tidak.


3.Biaya kegagalan internal lingkungan
Adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan karena diproduksinya limbah dan sampah, tetapi tidak dibuang ke lingkungan luar.

4.Biaya kegagalan eksternal lingkungan
Adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan setelah melepas limbah atau sampah ke dalam lingkungan. Biaya kegagalan eksternal dibagi menjadi dua lagi, antara lain;
·         Biaya kegagalan eksternal yang direalisasi
, adalah biaya yang dialami dan dibayar oleh perusahaan.
·         Biaya kegagalan eksternal yang tidak direalisasikan
 atau biaya sosial, disebabkan oleh perusahaan tetapi dialami dan dibayar oleh pihak-pihak diluar perusahaan.


Laporan Biaya Lingkungan
Pelaporan biaya adalah penting jika sebuah organisasi serius untuk memperbaiki kinerja lingkungannya dan mengendalikan biaya lingkungannya. Langkah pertama yang baik adalah laporan yang memberikan perincian biaya lingkungan menurut kategori. Pelaporan biaya lingkungan menurut kategori memberikan hasil yang penting :
1.dampak biaya lingkungan terhadap profitabilitas perusahaan
2.jumlah relative yang dihabiskan untuk setiap kategori Biaya kegagalan lingkungan dapat dikurangi dengan menginvestasikan lebih banyak pada aktivitas-aktivitas pencegahan dan deteksi. Adalah sesuatu yang mungkin bahwa model pengurangan biaya lingkungan akan berperilaku serupa dengan model biaya kualitas total. Hal ini dipandang ketika biaya lingkungan yang terendah diperoleh pada titik kerusakan – nol
. Ide yang mendasari pandangan “kerusakan nol” (zero-damage point) adalah mencegah lebih murah daripada mengobati
. Banyak perusahaan dan organisasi yang menerapkan konsep ini pada perusahaannya. Profitabilitas perusahaan tetap menjadi tujuan perusahaan dalam pelaksanaan konsep ini. Pelaporan biaya lingkungan menurut kategorinya mempeerlihatkan aspek pentingnya dan menunjukkan peluang untuk mengurangi biaya lingkungan dengan cara memperbaiki kinerja lingkungan.

Laporan Keuangan Lingkungan
Ekoefiensi menyarankan sebuah kemungkinan modifikasi untuk pelaporan biaya lingkungan. Selain melaporkan biaya lingkungan, keuntungan lingkungan juga perlu adanya untuk dilaporkan. Dalam suatu periode tertentu, ada tiga jenis keuntungan :
1.      Pemasukan, mengacu pada pendapatan yang mengalir ke organisasi karena adanya tindakan lingkungan
2.      Penghematan saat ini, mengacu pada pengurangan biaya lingkungan yang dicapai tahun ini.
3.      Penghindaran biaya, mengacu pada penghematan berjalan yang dihasilkan di tahun-tahun sebelumnya.
     Di dalam laporan keuangan lingkungan, pengurangan biaya yang ditunjukkan adalah jumlah penghematan saat ini ditambah dengan penghindaran biaya lingkungan karena tindakan lingkungan pada periode sebelumnya.
Membebankan Biaya Lingkungan

Biaya Produk Lingkungan
Biaya lingkungan dari proses produksi, pemasaran, dan pengiriman produk serta biaya lingkungan pasca pembelian yang disebabkan oleh penggunaan dan pembuangan produk merupakan contoh-contoh biaya produk lingkungan. Penghitungan biaya lingkungan penuh adalah pembebanan semua biaya lingkungan, baik yang bersifat privat maupun sosial, ke produk. Penghitungan biaya privat penuh adalah pembebanan biaya privat ke produk individual. Biaya privat dapat dibebankan dengan menggunakan data yang dihasilkan di dalam perusahaan, sedangkan biaya penuh memerlukan pengumpulan data yang dihasilkan di luar perusahaan, yaitu dari pihak ketiga.

Pembebanan Produk Lingkungan Berbasis Fungsi
Dengan menggunakan definisi biaya lingkungan dan kerangka kerja klasifikasi yang baru dikembangkan, biaya lingkungan harus dipisahkan ke dalam kelompok biaya lingkungan dan tidak lagi disembunyikan di dalam overhead seperti halnya dalam kebanyakan system akuntansi. Dalam penghitungan biaya berbasis fungsi, dibentuk suatu kelompok biaya lingkungan dan tingkat atau tarifnya dihitung dengan menggunakan penggerak tingkat unit seperti jumlah jam tenaga kerja dan jam mesin. Biaya lingkungan kemudian dibebankan kepada setiap produk berdasarkan pemakaian jam tenaga kerja langsung atau jam mesin. Pendekatan ini dapat berjalan baik untuk produk yang homogen. Namun, dalam perusahaan yang memiliki banyak produk yang bervariasi, pembebanan biaya semacam ini dapat mengakibatkan distorsi biaya.

Pembebanan Biaya Lingkungan Berbasis Aktivitas
Munculnya penghitungan biaya berbasis aktivitas (activity-based costing) ikut memfasilitasi penghitungan biaya lingkungan.Untuk perusahaan yang menghasilkan beragam produk, pendekatan berbasis aktivitas lebih tepat. ABC membebankan biaya ke aktivitas lingkungan dan kemudian menghitung tingkat atau tariff aktivitas. Tingkat ini digunakan untuk membebankan biaya lingkungan ke produk. Untuk aktivitas-aktivitas lingkungan ganda, setiap aktivitas akan dibebankan biaya, dan tingkat aktivitas akan dihitung. Tingkat ini kemudian digunakan untuk membebankan biaya lingkungan ke produk berdasrkan penggunaan aktivitas. Penelusuran biaya lingkungan ke produk-produk yang menyebabkan biaya-biaya tersebut merupakan syarat utama dari system akuntansi lingkungan yang baik.
·         Penilaian Siklus Hidup Penilaian biaya siklus hidup merupakan bagian mendasar dari penilaian siklus hidup.
·         Pembebanan produk adalah praktik mendesain, mengolah, dan mendaur ulang produk untuk meminimalkan dampak buruknya terhdap lingkungan.
·         Penilaian siklus hidup adalah sarana untuk meningkatkan pembenahan produk. Penilaian siklus hidup mengidentifikasi pengaruh lingkungan dari suatu produk di sepanjang siklus hidupnya dan kemudian mencari peluang untuk memperoleh perbaikan lingkungan.
Penilaian biaya siklus hidup membebankan biaya dan keuntungan pada pengaruh lingkungan dan perbaikan.

Siklus Hidup Produk
Tahapan dalam siklus hidup antara lain :
1.Ekstraksi sumber daya
2.Pembuatan produk
3.Penggunaan produk
4.Daur ulang dan pembuangan
5.Pengemasan produk
    Sudut pandang siklus hidup yang digunakan mengggabungkan sudut pandang pemasok, produsen, dan pelanggan. Hubungan internal maupun eksternal dianggap penting dalam menilai pengaruh lingkungan dari produk, desain produk, dan desain proses yang berbeda-beda.Penilaian siklus hidup didefinisikan oleh tiga tahapan formal :

1.Analisis PersediaanMenyebutkan jenis dan jumlah input bahan baku dan energy yang dibutuhkan serta pelepasan ke lingkungan yang dihasilkan dalam bentuk rsidu padat, cair, dan gas. Anylisis ini mencakup seluruh siklus hidup produk.

2.Analisis DampakMenilai pengaruh lingkungan dari beberapa desain bersaing dan menyediakan peringkat relative dari pengaruh-pengaruh tersebut

3.Analisis PerbaikanBertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan yang ditunjukkan oleh tahap persediaan dan dampak Penilaian Biaya
   Penilaian biaya siklus hidup membebankan biaya ke dampak lingkungan dari beberapa desain produk. Biaya ini adalah fungsi dari penggunaan bahan baku, energy yang dikonsumsi, dan pelepasan ke lingkungan yang berasal dari manufaktur produk. Sebelum menilai pembebanan produk ini, pertama-tama perrlu dilakukan analisis persediaan yang memberikan perrincian bahan baku, energy, dan pelepasan ke lingkungan. Analisis ini dilakukan di sepanjang siklus hidup produk. Setelah selesai, dampak keuangan dan operasional dapat dinilai dan langkah-langkah dapat diambil untuk memperbaiki kinerja lingkungan. Langkah terakhir ini juga disebut dengan analisis lingkungan.
Akuntansi Pertanggungjawaban Lingkungan Berbasis Strategi

   Tujuan keseluruhan dari perbaikan kinerja lingkungan mengusulkan bahwa kinerja perbaikan berkelanjutan untuk pengendalian lingkungan yang paling sesuai. Pengendalian biaya lingkungan bergantung pada system akuntansi pertanggungjawaban berbasis strategi. System ini memiliki dua fitur penting : komponen strategi dan komponen operasional. Komponen strategi menggunakan kerangka balance scorecard. Penyesuaian untuk pengendalian lingkungan adalah penambahan perspektif kelima yaitu perspektif lingkungan.

Perspektif Lingkungan
Kita dapat mengidentifikasi sekurang-kurangnya lima tujuan inti dari perspektif lingkungan, antara lain :
1.Meminimalkan bahan baku atau bahan yang masih asli
2.Meminimalkan penggunaan bahan berbahaya
3.Meminimalkan kebutuhan energy untuk produksi dan penggunaan produk
4.Meminimalkan residu padat, cair, dan gas
5.Memaksimalkan peluang untuk daur ulang
    Ukuran kinerja yang memungkinkan untuk tujuan nomor 1 dan 2 ialah berapa jumlah kuantitas total dan per unit dari berbagai bahan baku dan energi (misalnya, berat bahan kimia beraun yang digunakan), ukuran produktivitas (output/bahan baku, output/energi), dan biaya bahan(energi)berbahaya yang dinyatakan sebagi persentase total biaya bahan baku.Tujuan inti yang keempat dapat direalisasikan dalam salah satu dari dua car berikut :
(1) menggunakan teknologi dan metode untuk mencegah pelepasan residu, ketika diproduksi, dan
(2) menghindari produksi residu dengan mengidentifikasi penyebab dasar dan mendesain ulang produk dan proses untuk menghilangkan penyebab-penyebabnya.

Peran Manajemen Aktivitas
Manajemen berbasis aktivitas menyediakan system operasional yang menghasilkan perbaikan lingkungan. Aktivitas lingkungan diklasifikasikan sebagai bernilai tambah (value-added) dan tak bernilai tambah (nonvalue-added).Aktivitas tak bernilai tambah adalah aktivitas yang tidak perlu ada jika perusahaan beroperasi secara optimal dan efisien. Penggunaan paradigma ekoefisiensi mengimplikasikan bahwa selalu ada aktivitas yang secara simultan dapat menghindari degradasi lingkungan dan menghasilkan keadaan efisiensi ekonomi yang lebih baik daripada keadaan yang sekarang. Biaya lingkungan tak bernilai tambah adalah biaya aktivitas tak bernilai tambah. Biaya ini mewakili keuntungan yang dapat ditangkap dengan cara memperbaiki kinerja lingkungan.

Desain untuk lingkungan
Merupakan pendekatan khusus yang menyentuh produk, proses, bahan baku, energy, dan daur ulang. Dengan kata lain, keseluruhan daur hidup produk dan pengaruhnya terhadap lingkungan harus dipertimbangkan. Dalam konsep ukuran keuangan, perbaikan lingkungan harus menghasilkan keuntungan keuangan yang signifikan. Jika keputusan ekoefisien dibuat, maka total biaya lingkungan harus terhapus bersamaan dengan perbaikan kinerja lingkungan. Diperlukan keberhati-hatian dalam mengukur biaya dan tren. Pengurangan biay harus terkait dengan perbaikan lingkungan dan bukan sekadar menghilangkan kewajiban terhadap lingkungan. Jadi, biay kegagalan eksternal harus mencerminkan kewajiban thunan rata-rata yang berasal dari efisiensi lingkungan saat ini. Kemungkinan penghitungan lain adalah dengan menghitung biaya lingkungan total sebagai persentase penjualan dan menelusuri nilai tersebut selama beberapa periode. Dalam hal ini maka dapat disimpulkan bahwa perbaikan ekoefisiensi harus menghasilkan konsekuensi keuangan yang menguntungkan yang dapat diukur dengan menggunakan tren biaya lingkungan tak bernilai tambah dan tren total biaya lingkungan.

Keuntungan dan kerugian konsultan/peneliti Internal dan Eksternal


Konsultan/peneliti internal VS Eksternal
Sejumlah organisasi mempunyai departemen konsultan atau penelitian sendiri, yang mungkin dinamakan Departemen Layanan Manajemen, Departemen Organisasi dan Metode, R & D (Research and Development), atau lainnya.
Departemen tersebut berperan sebagai konsultan internal untuk submit dalam organisasi yang menghadapi masalah tertentu dan memerlukan bantuan. Unit semacam ini dalam organisasi, jika eksis, akan mempunyai beberapa kegunaan, dan memperoleh bantuannya akan lebih menguntungkan di bawah sejumlah situasi, tetapi tidak dalam situasi lainnya. Manajer, sering harus memutuskan apakah menggunakan peneliti internal atau eksternal. Untuk mencapai keputusan, manajer harys menyadari kekuatan dan kelemahan keduanya, dan menimbang keuntungan dan kerugian menggunakan salah satunya, berdasarkan kebutuhan situasi. Beberapa keuntungan dan kerugian
tersebut akan kami bahas sebagai berikut.


A. Konsultan/peneliti internal
Ada setidaknya empat keuntungan dalam menggunakan tim internal umntuk melakukan proyek penelitian  :
1.      Tim internal akan lebih mungkin diterima oleh karyawan dalam submit organisasi di mana penelitian perlu dilakukan.
2.      Tim akan memerlukan lebih sedikit waktu untuk memahami struktur, filosofi dan suasana, serta fungsi dan system kerja organisasi.
3.      Mereka akan dapat melaksanakan rekomendasi setelah temuan penelitian diterima. Hal ini sangat penting karena setiap gangguan dalam implementasi rekomendasi dapat disingkirkan dengan bantuan mereka. Mereka juga dapat mengevaluasi efektivitas perubahan, dan mempertimbangkan perubahan lebih lanjut, jika, dan ketika diperlukan.
4.      Tim internal mungkin menelan jauh lebih sedikit biaya dibanding tim eksternal untuk departemen yang memerlukan bantuan dalam pemecahan masalah, sebab mereka hanya membutuhkan sedikit waktu memahami system karena keterlibatan mereka yang terus-menerus dengan berbagai unit dalam organisasi. Untuk masalah yang tidak terlalu rumit, tim internal sangat ideal.

Adapula kerugian tertentu dalam menggunakan tim peneliti internal untuk tujuan pemecahan masalah. Empat hal yang paling kritis adalah :
1.      Dalam konteks masa kerja mereka yang panjang sebagai konsultan internal, tim internal sangat mungkin jatuh ke dalam cara pandang stereotip dalam melihat organisasi dan masalahnya. Hal tersebut akan menghalangi ide dan perspektif segar yang mungkin diperlukan untuk mengatasi masalah. Hal tersebut jelas sekali akan menjadi rintangan bagi situasi ketika isu-isu berat dan masalah kompleks harus diinvestigasi.
2.      Ada keleluasaan bagi koalisi kekuasaan tertentu dalam organisasi untuk mempengaruhi tim internal menyembunyikan, menyimpangkan, atau dapat mengubah fakta tertentu. Dengan kata lain, kepentingan pribadi tertentu dapat mendominasi, terutama untuk mendapatkan porsi yang cukup besar dari sedikit sumber daya yang tersedia.
3.      Terdapat kemungkinan bahwa, bahkan tim penelitian internal yang paling berkualifikasi tinggi tidak dianggap sebagai pakar oleh staff dan manajemen, dan oleh karena itu rekomendasi mereka tidak memperoleh cukup pertimbangan dan perhatian yang layak.
4.      Bias organisasi tertentu terhadap tim penelitian internal dalam beberapa hal dapat membuat temuan menjadi kurang objektif dan sebagai konsekuensinya kurang ilmiah.


B. Konsultan/peneliti eksternal       
Kerugian dari tim internal sebaliknya merupakan keuntungan tim eksternal, dan keuntungan yang pertama menjadi kerugian yang terakhir. Tetapi, keuntungan dan kerugian tim eksternal dapat disoroti.

Keuntungan tim eksternal adalah :
1.      Tim eksternal dapat menerapkan kekayaan pengalaman yang diperoleh dari bekerja dengan berbagai tipe organisasi yang mempunyai jenis masalah yang sama atau mirip. Keluasan pengalaman akan membuat mereka mampu untuk berfikir, baik secara divergen atau konvergen, dan menghindari ketergesaan menuju solusi instan berdasarkan fakta yang tampak dalam situasi. Mereka akan mampu mempertimbangkan beberapa cara alternative untuk melihat masalah karena pengalaman pemecahan masalah yang luas dalam berbagai konteks organisasi lain. Karena menelaah situasi dari beberapa sudut dan perspektif yang mungkin (secara divergen), mereka dapat secara kritis menilai masing-masing, membuang pilihan dan alternative yang kurang sesuai, dan focus pada solusi spesifik yang layak (berfikir secara konvergen).
2.      Tim eksternal, terutama dari perusahaan penelitian dan konsultan terkemuka, mungkin mempunyai lebih banyak pengetahuan mengenai model-model pemecahan masalah yang terkini dan tercanggih yang diperoleh melalui program pelatihan periodic mereka, yang mungkin tidak dimiliki oleh tim internal organisasi. Karena keusangan pengerahuan merupakan ancaman nyata dalama bidang konsultan, institusi penelitian eksternal menjamin bahwa anggota mereka memperoleh inovasi terbaru dalam program pelatihan yang dikelola secara periodic. Tingkat di mana anggota tim internal tetap mengikuti teknik pemecahan terbaru mungkin sangat dipertimbangkan oleh organisasi.

Kerugian utama dalam menyewa tim penelitian eksternal adalah sebagai berikut :
1.      Biaya sewa tim penelitian ekternal biasanya mahal dan cenderung dihindari, kecuali jika masalah sangat kritis.
2.      Selain banyak waktu yang diperlukan oleh tim ekternal untuk memahami organisasi yang akan diteliti, mereka jarang memperoleh sambutan hangat, pun tidak dengan serta-merta diterima oleh karyawan. Departemen dan orang yang akan terpengaruh oleh studi penelitian mungkin menganggap tim studi sebagai ancaman dan menentang meraka. Karena itu, meminta dukungan karyawan dan memperoleh kerjasama mereka dalam studi adalah sedikit lebih sulit dan memakan waktu bagi peneliti eksternal dibandingkan tim internal.
3.      Tim eksternal juga membebankan biaya tambahan untuk bantuan mereka dalam fase implementasi dan evaluasi.


Pertimbangan : Sambil mengingat keuntungan dan kerugian tim internal dan eksternal, manajer yang menginginkan jasa penelitian harus mempertimbangkan pro dan kontra dalam menggunakan salah satunya sebelum membuat keputusan. Bila masalah sangat rumit, atau jika ada kemungkinan masuknya kepentingan pribadi, atau bila keberadaan organisasi menjadi taruhannya karena satu atau lebih masalah serius, sangat disarankan untuk menggunakan peneliti eksternal meskipun biayanya lebih mahal. Tetapi, jika masalah yang terjadi cukup sederhana, jika waktu menjadi penentu dalam pemecahan masalah yang cukup rumit, atau bila perluasan system diperlukan untuk membuat prosedur dan kebijakan yang bersifat rutin, tim internal mungkin akan menjadi pilihan yang lebih baik.
Pengetahuan tentang metode penelitian dan pengertian akan perbandingan keuntungan dan kerugian tim internal dan eksternal menolong manajer membuat keputusan mengenai bagaimana menangani masalah dan menetukan apakah peneliti internal atau eksternal yang merupakan pilihan tepat untuk menginvestigasi dan memecahkan masalah.

Transfer pricing


1.     Definisi Transfer Pricing
Transfer pricing didefenisikan sebagai suatu harga jual khusus yang dipakai dalam pertukaran antar divisional untuk mencatat pendapatan divisi penjual (selling division) dan biaya divisi pembeli (buying divison). (Henry Simamora, 1999:272). Transfer pricing sering juga disebut dengan intracompany pricing, intercorporate pricing, interdivisional atau internal pricing yang merupakan harga yang diperhitungkan untuk keperluan pengendalian manajemen atas transfer barang dan jasa antar anggota (grup perusahaan). Transfer pricing biasanya ditetapkan untuk produk-produk antara (intermediate product) yang merupakan barang-barang dan jasa-jasa yang dipasok okeh divisi penjual kepada divisi pembeli. Bila dicermati secara lebih lanjut, transfer pricing dapat menyimpang secara signifikan dari harga yang disepakati. Oleh karena itu transfer pricing juga sering dikaitkan dengan suatu rekayasa harga secara sistematis yang ditujukan untuk mengurangi laba yang nantinya akan mengurangi jumlah pajak atau bea dari suatu negara.
Dari uraian di atas nampak bahwa pada prinsipnya praktik transfer pricing (dengan harga yang tidak sama dengan harga pasar) dapat didorong oleh alasan pajak (tax motive) maupun bukan pajak (non-tax motive).  Motivasi pajak atas praktik transfer pricing dilaksanakan dengan sedapat mungkin memindahkan penghasilan ke negara dengan beban pajak terendah atau minimal. Salah satu bentuk pengalihan penghasilan, misalnya dalam bentuk pembayaran royalti karena dengan sangat langkanya standar harga (tarif) pasar atas royalti sangat sulit bagi administrasi pajak untuk mengatasinya.
Masalah transfer pricing ini juga tidak terlepas dari fenomena bisnis perusahaan besar yang multi unit yang akan melakukan ekspansi usaha ke luar negeri dengan mengoprasikan usahanya secara desentralisasi dan mengimplementasikan konsep cpst-reveneu atau konsep corporate profit center. Idealnya, konsep desentralisasi profit center tersebut merupakan pula alat yang dapat mengukur dan menilai kinerja yang juga salah satu tujuan manajemen serta motivasi pengelolaan unit-unit perusahaan multinasional yang bersangkutan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Di samping itu, masalah ketat/tidaknya pengawasan aparat pemerintah yang terkait serta kebutuhan informasi, merupakan hal vang akan mendorong; pelaksanaan transfer pricing, sehingga secara keselturuhan beberapa faktor pendorong pemicu munculnya masalah transfer pricing tersebut adalah:
1) Pergeseran menuju desenhralisasi, divisionalisasi, dan penggunaan konsep cnrpu­ ratc profit center
2) Pemanfaatan transfer pricing dalam bisnis dan invesatsi internasional.
3) Pengawasan transfer pricing oleh aparat perpajakan dan bea cukai di beberapa negara.
4) Keperluan pengungkapan segmentasi informasi dan transaksi antar-unit dalam group perusahaan.

2.     Tujuan Transfer Pricing
Secara umum, tujuan penetapan harga transfer adalah untuk mentransmisikan data keuangan di antara departemen-departemen atau divisi-diisi perusahaan pada waktu mereka saling menggunakan barang dan jasa satu sama lain (Henry Simamora, 1999:273) Selain tujuan tersebut, transfer pricing terkadang digunakan untuk mengevaluasi kinerja divisi dan memotivasi manajer divisi penjual dan divisi pembeli menuju keputusan-keputusan yang serasi dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan. A transfer pricing system should satisfy three objectives: acurate performance evaluation, goal congruence, and preservation of divisional autonomy (Joshua Ronen and George McKinney, 1970:100-101).
Sedangkan dalam lingkup perusahaan multinasional, transfer pricing digunakan untuk, meminimalkan pajak dan bea yang mereka keluarkan diseluruh dunia Transfer pricing can effect overall corporate incame taxes. This is particulary true for multinational corporations (Hansen and Mowen, 1996:496).

3.     Tipe dan Metode Transfer Pricing
Beberapa metode transfer pricing yang sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan Multinasional dan divisionalisasi/departementasi dalam melakukan aktifitas keuangannya adalah:

1. Harga Transfer Dasar Biaya (Cost-Based Transfer Pricing)
Perusahaan yang menggunakan metode transfer atas dasar biaya menetapkan harga transfer atas biaya variabel dan tetap yang bisa dalam 3 pemelihan bentuk yaitu : biaya penuh (full cost), biaya penuh ditambah mark-up (full cost plus markup) dan gabungan antara biaya variabel dan tetap (variable cost plus fixed fee).

2.  Harga Transfer atas Dasar Harga Pasar (Market Basis Transfer Pricing)
Apabila ada suatu pasar yang sempurna, metode transfer pricing atas dasar harga pasar inilah merupakan ukuran yang paling memadai karena sifatnya yang  independen. Namun keterbatasan informasi pasar yang terkadang menjadi kendala dalam mengunakan transfer pricing yang berdasarkan harga pasar.

3. Harga Transfer Negosiasi (Negotiated Transfer Prices)
Dalam ketiadaan harga, beberapa perusahaan memperkenankan divisi-divisi dalam perusahaan yang berkepentingan dengan transfer pricing untuk menegosiasikan harga transfer yang diinginkan. Harga transfer negosiasian mencerminkan prespektif kontrolabilitas yang inheren dalam pusat-pusat pertanggungjawaban karena setiap divisi yang berkepentingan tersebut pada akhirnya yang akan bertanggung jawab atas harga transfer yang dinegosiasikan.

4. Transfer Pricing pada Perusahaan Multinasional
Menurut Zain (2003:297-298), kebijakan transfer pricing multinasional bertujuan:
1)        Memaksimalkan penghasilan global
2)        Mengamankan posisi kompetitif  anak/cabang perusahaan dan penetrasi pasar
3)        Evaluasi kenerja anak/cabang perusahaan manca negera
4)        Penghidaran pengendalian devisa
5)        Mengontrol kredibilitas asosiasi
6)        Meningkatkan bagian laba joint ventura
7)        Reduksi resiko moniter
8)        Mengamankan cash flow anak/cabang di luar negeri

Biasanya cegah tangkal yang dilakukan oleh negara-negara dengan adanya transfer pricing adalah membuat suatu kewenangan, dimana pemerintah diberikan wewenang untuk menentukan kembali dengan cara me-realokasikan kembali jumlah laba dan biaya-biaya yang timbul di perusahaan multinasional yang notabene punya beberapa divisi, sehingga laba dan biaya-biaya yang timbul sebagai hasil transaksi antar divisi tersebut yang ditengarai sebagai suatu praktek transfer pricing yang bisa meminimalkan pajak terutang dapat di cegah. U.S.- Based multinationals are subject to Internal Revenue Code Section 482 on the pricing of intercompany transactions. This section gives the IRS the authority to reaalocate income and deductions among divisions if it believes that such reallocation will reduce potentiak tax evasion. (Hansen and Mowen, 1996:543). Lebih lanjut ditegaskan bahwa dalam IRS, apabila terjadi transaksi antar divisi dalam perusahaan multinasional atau terjadi transaksi dalam perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa, maka harga yang berlaku adalah harga yang timbul apabila transaksi tersebut dilakukan dengan pihak-pihak di luar perusahaan atau dengan kata lain, transaksi dilakukan dengan pihak-pihak yang tidak punya hubungan istimewa. That is, the transfer pricing set should match the price that would be set if the transfer were being made by unrelated parties, adjusted for diffrences that have a measurable effect on the price. (Hansen and Mowen, 1996:543).

Sustainability Reporting


     Sustainability Report memiliki definisi yang beragam, menurut Elkington(1997) SR berarti laporan yang memuat tidak saja informasi kinerja keuangan tetapi juga informasi non keuangan yang terdiri dari informasi aktivitas sosial dan lingkungan yang memungkinkan perusahaan bisa bertumbuh secara berkesinambungan (sustainable performance). Pelaporan sustainability akan menjadi perhatian utama dalam pelaporan nonkeuangan, Pelaporan ini memuat empat kategori utama yaitu : business landscape, strategi, kompetensi, serta sumber daya dan kinerja (Falk, 2007).
Saat ini implementasi pelaporan berkelanjutan di Indonesia didukung oleh sejumlah aturan seperti UU No. 23/1997 tentang manajemen lingkungan dan aturan yang dikeluarkan Bursa Efek Indonesia mengenai prosedur dan persyaratan listing dan juga standar laporan keuangan (PSAK). Sustainability Reports perusahaan membutuhkan pedoman pelaporan berkelanjutan yang diterima secara nasional. Untuk tujuan tersebut, dibutuhkan sebuah Badan Nasional yaitu NCSR (National Center for Sustainability Reporting). Pengguna utama dari SR antara lain, masyarakat atau komunitas, investor tanggung jawab sosial, bank, institusi pemerintah, dan manajemen dan karyawan. Manfaat SR yang berdasarkan pada kerangka GRI, yaitu: 
1) sebagai benchmark kinerja organisasional dengan memperhatikan hukum, norma, undang-undang,
standar kinerja, dan prakarsa sukarela;
2) mendemostrasikan komitmen organisasional untuk sustainable development, dan
3) membandingan kinerja organisasional setiap waktu.

       GRI mempromosikan dan mengembangkan pendekatan standarisasi pelaporan tersebut untuk menstimulasikan permintaan terhadap informasi sustainability yang akan menguntungkan pelaporan organisasi dan kepada yang menggunakan informasi laporan serupa. Pengungkapan Sustainability Report yang sesuai dengan GRI (Global Reporting Index) harus memenuhi beberapa prinsip. Prinsip-prinsip ini tercantum dalam GRI-G3 Guidelines, yaitu:

1. Keseimbangan
Sustainability Report sebaiknya mengungkapkan aspek positif dan negative dari kinerja suatu perusahaan agar dapat menilai secara keseluruhan kinerja dari perusahaan tersebut.

2. Dapat dibandingkan
 Sustainability Report berisi isu dan informasi yang ada sebaiknya dipilih, dikompilasi, dan dilaporkan secara konsisten. Informasi tersebut harus disajikan dengan seksama sehingga memungkinkan para stakeholder untuk menganalisis perubahan kinerja organisasi dari waktu ke waktu.

3. Akurat
Informasi yang dilaporkan dalam Sustainability Report harus cukup akurat dan rinci sehingga memungkinkan pemangku kepentingan untuk menilai kinerja organisasi.

4. Urut waktu
Pelaporan Sustainability Report tersebut harus terjadwal dan informasi yang ada harus selalu tersedia bagi para stakeholder.

5. Kesesuaian
Informasi yang diberikan dalam Sustainability Report harus sesuai dengan pedoman dan dapat dimengerti serta dapat diakses oleh stakeholder.

6. Dapat dipertanggungjawabkan
Informasi dan proses yang digunakan dalam penyusunan laporan harus dikumpulkan, direkam, dikompilasi, dianalisis, dan diungkapkan dengan tepat sehingga dapat menetapkan kualitas dan materialitas informasi

Pengungkapan standar dalam Sustainability Report menurut GRI-G3 Guidelines terdiri dari:

1. Ekonomi
Menyangkut dampak yang dihasilkan perusahaan pada kondisi ekonomi dari stakeholder dan pada sistem ekonomi di tingkat lokal, nasional, dan global.

2. Lingkungan
Menyangkut dampak yang dihasilkan perusahaan terhadap makhluk di bumi, dan lingkungan sekitar termasuk ekosistem, tanah, udara, dan air.

3. Hak Asasi Manusia
Adanya transparansi dalam mempertimbangkan pemilihan investor dan pemasok / kontraktor. Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.

4. Masyarakat
Memusatkan perhatian pada dampak organisasi terhadap masyarakat dimana mereka beroperasi, dan mengungkapkan bagaimana risiko yang mungkin timbul dari interaksi dengan lembaga sosial lainnya.

5. Tanggung jawab produk
Berisi pelaporan produk yang dihasilkan perusahaan dan layanan yang secara langsung mempengaruhi pelanggan, yaitu kesehatan dan keamanan, informasi dan pelabelan, pemasaran, dan privasi.

6. Sosial
Berisi kegiatan sosial yang dilakukan oleh perusahaan, apa saja yang sudah dilakukan dan bagaimana kegiatan tersebut dilakukan

Membuat presentasi


Membuat presentasi
Definisi Presentasi
Presentasi adalah cara menyampaikan pesan, informasi, atau pengetahuan kepada partisipan, dalam hal ini adalah pihak manajemen auditee.
Mengapa Presentasi yang baik?
Pembawa materi mengharapkan partisipan untuk :
  • Paham dengan materi yang dibawakan. Penting bagi seorang pembawa materi untuk membawakan materi sedemikian rupa agar partisipan dapat mengerti apa yang disampaikan. Hal ini dikarenakan memang tujuan dari presentasi itu sendiri agar partisipan mengerti dengan materi yang disampaikan oleh pembawa materi.
  • Tertarik dengan materi yang dibawakan. Sedikit celetukan yang membuat peserta presentasi tertawa lebih baik dibandingkan harus serius terus. Karena konsentrasi manusia mudah teralihkan, maka jika kita selalu serius akan membuat para peserta presentasi menjadi jenuh dan yang ada malah peserta presentasi akan lebih asik sendiri seperti ngobrol ke teman-temannya dan tidak memperhatikan kita. Nanti malah yang akan kita bicarakan malah tidak sampai ke peserta presentasi.
  • Berfikir bahwa pembawa materi hebat. Untuk mendapatkan kesan ini, pertama dan paling utama pembawa materi harus paham dan menguasai materi yang akan dibawakan. Dengan demikian, partisipan akan memiliki persepsi bahwa dengan dikuasainya materi yang dibawakan oleh pembawa materi, mereka akan terkesan dan lebih memerhatikan materi yang dibawakan.
Saran Untuk Membuat Presentasi
1. Kuasai dan Pahami Materi dengan Baik
Ini adalah syarat mutlak untuk dapat membawakan presentasi dengan baik: kuasai materinya! Salah satunya bisa kita lihat dari seberapa sering kita melihat catatan,contekan, atau slidenya. Semakin tidak menguasai materi, maka akan semakin membuat kita mengandalkan "contekan" yang akhirnya penonton akan merasa jenuh dan tidak memahami materi dengan baik. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan membaca berulang kemudian melakukan simulasi tanya jawab terkait dengan materi yang hendak disampaikan. Semakin banyak pertanyaan yang bisa dijawab, maka penguasaan materinya semakin baik.
2. Melakukan Simulasi Presentasi
Presentasi yang dibawakan ini bersifat individu atau kelompok? Keduanya memerlukan simulasi! Cobalah 2 atau 3 hari sebelum presentasi, lakukan simulasi presentasi yang akan dibawakan. Ini sangat bermanfaat untuk mengatur waktu presentasi dan juga berlatih membawakan presentasi agar terbiasa. Jika berkelompok, simulasi ini berguna untuk mengatur transisi pergantian pembawa materi dan juga mengukur waktu masing-masing setiap orang.
3. Perhatikan Slide
Dalam membuat slide presentasi, pastikan Anda tidak melakukan copy-paste makalah atau materi dari internet bulat-bulat. Slide yang baik hanya berisikan kata-kata kunci, yang kemudian dijelaskan oleh si presenter dengan cara yang menarik. Berikanlah penekanan terhadap kata-kata kunci, bisa ukuran hurufnya diperbesar, diberi warna yang berbeda, atau diberi garis bawah. Gunakan gambar, grafik, atau chart yang relevan dan menarik. Pastikan ukuran font minimal 20 - 22. Kalau semua isi makalah atau dokumen itu dimasukkan slide, suruh saja si penonton membaca slide dan Anda tidak perlu memberikan presentasi.
4. Membuat Konsep yang "Beda"
Apa yang biasanya ada pada sebuah presentasi standar? Presenter menjelaskan isi dari slide powerpointnya dengan menggunakan LCD, kan? Nah, cobalah membuat suatu konsep berbeda. Saya sering atau pernah memberikan tambahan ada simulasi drama, games, kuis cepat-tepat, dan membuat animasi atau video terkait dengan materi agar penonton lebih mudah menangkap materi. Maka dari itu saya dan kelompok seringkali mendapat pujian karena menampilkan presentasi yang 'beda.'
5. Membuat Backup Data Slide
Tidak lucu kalau H-1 presentasi komputer Anda terkena virus dan semua data Anda hilang dan Anda tidak jadi presentasi! Maka dari itu copy materi presentasi Anda di flashdisk, atau simpan di alamat e-mail Anda. Jadi kalau suatu waktu Anda kehilangan data slide presentasi, Anda bisa mengambilnya secara online.
6. Perhatikan Gerak Tubuh dan Ekspresi
Jadilah presenter yang atraktif dan ekspresif. Jangan hanya sekedar membacakan teks yang ada di slide Anda. Keluarkan ekspresi dan gerakan-gerakan menarik yang bisa menarik perhatian penonton. Jangan hanya menjadi seperti patung. Untuk mempersiapkannya, Anda bisa berlatih di depan cermin untuk melihat bagaimana ekspresi  dan bahasa tubuh Anda saat membawakan presentasi. Ingat untuk tersenyum dan menularkan energi yang positif.
7. Perhatikan Kontak Mata
Nah, perhatikan kepada siapa Anda membawakan presentasi. Pertahankan kontak mata terhadap penonton. Kalau melibatkan dosen/guru dan juga teman, maka tataplah secara bergantian. Kalau memang Anda grogi, Anda bisa menatap dahi teman atau guru Anda. Untuk melatihnya sebelum presentasi, Anda bisa meminta teman Anda untuk menjadi pendengar dan pertahankan kontak mata saat membawakan presentasi kepadanya.
8. Membuat Visualisasi Positif
Semua materi, slide, dan teknis persiapan sudah oke. Saatnya membangun sebuah mental yang positif. Banyak orang menjadi takut atau grogi saat presentasi karena berpikir 'bagaimana kalau presentasi saya jelek?', 'bagaimana kalau nanti saya ditertawakan?'. Padahal kita bisa memilih untuk berpikir sebaliknya. Mengapa kita tidak berpikir bahwa, 'bagaimana jika besok presentasi kita sukses?', bayangkan kemeriahan dan decak kagu9 Jurusm penonton karena pembawaan presentasi Anda. Inilah apa yang suka saya sebut sebagai, "Sukses presentasi dengan kekuatan pikiran."
9. Kenali Tempat, Alat, dan Penontonnya
Adakalanya sebagai profesional, kita diminta untuk memberikan presentasi, seminar, atau pelatihan kepada orang yang belum kita kenal dan di tempat yang belum pernah kita datangi. Jika seperti ini, maka cobalah untuk melakukan survey siapa penontonnya (bisa berupa gender, usia, atau latar belakang pendidikan), berapa banyak jumlahnya, dan bagaimana bentuk tempatnya. Syukur-syukur jika bisa survey ke tempatnya langsung. Pastikan juga ada fasilitas LCD untuk menampilkan slide presentasi dan soundsystem (jika dibutuhkan) agar Anda lebih siap.
10 . Berbicara yang jelas
Saat presentasi sedang berlangsung berbicara dengan jelas. Sehingga audience bisa memahami presentasi yang anda sampaikan. Kebanyakan audience beranggapan bahwa sebuah presentasi Powerpoint selalu kering dan membosankankan, dengan kreativitas anda dan pembicaraan yang baik, anda bisa mengubah pandangan tersebut.
11. Beri kesempatan untuk bertanya
Kalau bisa, luangkan waktu untuk memberikan kesempatan kepada audience untuk bertanya tentang hal-hal yang tidak dimengerti dari presentasi yang anda sampaikan.
12. Future Follow Up
Hal penting lainnya, adalah beri kesempatan kepada audience untuk bertanya di lain waktu mengenai topik presentasi yang anda sampaikan. Jadi jangan segan-segan untuk mencantumkan e-mail, no. telepon atau website anda di akhir presentasi anda. Sehingga mereka bisa bertanya kapanpun juga. Ini semua bisa menjadi nilai plus bagi anda.

Membuat Presentasi
1. Mudah dibaca
Presentasi yang baik adalah yang mudah dibaca, jadi pergunakan huruf standar misal Arial atau Times New Roman. Selain itu pergunakan huruf yang cukup besar, jangan sampai Audience kesulitan membaca karena huruf yang anda pergunakan terlalu kecil.
2. Judul yang jelas pada setiap Slide
Pergunakanlah huruf tebal, jelas dan mudah dibaca pada setiap judul slide anda.
3. Background yang sederhana
Perhatikan background yang anda pergunakan pada setiap slide yang anda buat. Jangan sampai kalimat yang ada tulis jadi tidak bisa terbaca dengan jelas, karena anda memakai background yang terlalu kontras.
4. Grapik dan Diagram
Mempergunakan gambar seperti grafik dan diagram akan membantu anda untuk lebih menjelaskan tentang topik yang sedang anda presentasikan. Selain itu dengan mempergunakan grafik atau diagram, akan sedikit menyegarkan suasana dan mengundang perhatian para audience.
5. Tetap fokus
Tulislah hal-hal pokok atau penting saja yang ada hubungan dengan topik yang sedang anda presentasikan. Jangan menggunakan terlalu banyak kata atau kalimat dalam satu slide presentasi. Cukup anda tulis judul atau garis besarnya saja.
6. Nyambung
Penting diperhatikan, setiap slide yang anda buat satu sama lain saling berhubungan.
7. Jangan terlalu banyak slide
Jangan membuat slide presentasi yang terlalu banyak untuk satu topik yang anda bahas. Buatlah Slide seefisien mungkin. Kalau topik yang anda bahas memang panjang, penjelasan secara lisan tentu lebih baik.